Sabtu, 26 Juni 2010

RAPUH...


Bergemelutuk gigi-gigi rapuhku ketika ingin berucap sebuah kata. Sela-sela dalam persendianku menjadi saksi hatiku yang kian detik semakin sesak dan terasa merapat pada jantungku yang semakin mempercepat detakannya. Ada sesuatu yang membuatku terasa sulit untuk menghirup nafas. Ada sesuatu yang membuatku begitu ketakutan. Ada sesuatu yang melemahkan tulang-tulangku dan menjadikan duniaku berada dalam gerhana jiwa.
Hatiku terasa sempit, susah untuk mencari tempat berteduh. Jantungku terus memburuku untuk membungkam setiap ucapan. Air mataku terus memberontak untuk melepaskan diri dari kantongnya.
Aku menahan rasa itu. Mencoba untuk memaklumi semua pengakuannya. Menahan gemigilnya seluruh tubuhku. Terus berusaha menarik nafas panjang demi memperlambat aliran darahku yang mengalir begitu cepat.
Aku menahan ngilunya lukaku. Luka sayatan 4-5 tahun silam. Ketika aku baru belajar untuk mengenal dunia. Masa waktuku untuk mengenal Cinta.

Luka itu tersayat begitu dalam. Hingga dagingku terkelupas dan menghabiskan darahku begitu banyak. Sakit yang aku rasa ketika itu. Aku tidak ingin berjalan lagi. Aku ingin berhenti sebentar untuk mengobatinya. Beberapa obat aku sentuhkan pada lukaku. Perlahan meski teramat perih. Sahabat-sahabatku, merekalah yang menjadi obat lukaku. Aku bubuhkan waktu demi waktu sembari aku menjauh dari parang yang telah menyakitiku. Aku ganti perbannya dengan rapi dan telaten. Aku bersihkan lalu aku obati lagi. Terus menerus, hingga berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Aku berharap luka itu tidak akan menjadi cacat pada hatiku.
Aku percaya bahwa Allah menanggalkan sebuah pesan pada kisahku. Mungkin, janganlah kita mendekati parang yang berbahaya jika tidak ingin terluka. Pesan itu yang aku terima. Dan aku rasakan kuatnya keyakinan itu pada relung hatiku.

Meski belum sembuh betul, aku mencoba berdiri. Aku obati selagi jalan. Aku melatih menahan ngilunya dan mengobatinya seketika waktu. Akhirnya, aku pun mampu menyembuhkan luka itu. Aku berhasil mengobatinya. Meskipun tertinggal cacat di hatiku, tapi tak apa. Aku akan baik-baik saja karena fibrinogen telah melindunginya. Melindungi lukaku dan mematikan rasa perih itu. Aku meneruskan perjalananku dengan normal. Dengan luka yang telah terlupakan. Kebahagian dan asa kembali terangkai dalam mimpi dan duniaku. Aku melangkah dengan optimis dengan membawa pesan yang aku terima. Kali ini, pesan itu memberiku sebuah arti. Aku tidak ingin dan tidak akan menjadi parang yang akan meyakiti orang lain. Aku tidak akan meyayatkan sebuah parang tajam ke tubuh orang-orang di sekitarku. Aku akan berusaha untuk menjaga parangku dengan sebaik mungkin dan tidak akan aku pergunakan kecuali untuk membela diri. Cahaya masa depan terasa berada di dekat depan mataku. Aku akan mencapai pintu masa depan itu dengan asaku bersama keyakinan yang aku tancapkan di dasar hatiku.

Sepanjang perjalananku mencapai pintu itu, aku mendapati seseorang yang dekat dengan hatiku. Aku menyapanya. Dan aku rasa, dia bukanlah orang yang bermain parang dengan mudahnya. Aku mengaguminya. Namun, sesaat aku melihat lukaku yang telah mengering. Terbayang banyak hal yang baru aku sadari, bahwa aku begitu lemah dan rapuhnya. Aku terus berharap, bahwa lukaku tidak akan terbuka lagi. Dan ada seseorang yang menjaga seluruh yang aku miliki dari tajamnya parang yang sungguh menyakitkan. Aku seorang wanita yang ingin sekali dilindungi. Ingin sekali merasakan dilindungi, tidak lagi melindungi diri sendir seperti tahun-tahun sebelumnya. Rupanya, dia tidak ingin melindungiku untuk saat ini. Dan dia tidak terpikirkan untuk melindungiku. Aku tertegun. Anehnya aku mendapati kesulitan untuk meghapusnya.

Dibalik semua itu, datanglah seseorang lain yang menyapaku dan menawarkanku sebuah perban. Dia akan melindungiku. Dia akan menjagaku. Aku tidak begitu mengenalnya. Tapi aku mencoba membuka hati untuk dirinya. Meski, seseorang yang aku harapkan masih melekat di ingatanku. Belajar dari pesan yang aku dapat, aku sangat berhati-hati menentukan siapa yang akan menjagaku. Dan akhirnya, kuputuskan "ya" untuk dia yang menawarkan perlindungan itu. Dan aku tumbuhkan sebuah kepercayaan padanya, karena aku rasa dia tidak akan memakai parangnya.

Siang di bulan Juni, hari terjadi gerhana bulan di Indonesia.2010.Gerhananya jiwaku menutup celah cahaya untuk masuk ke dalam hatiku. Badanku menggigil. Gigiku bergemelutuk ketika mencoba untuk berucap kata. Aku berpura-pura menikmatinya. Ku rapatkan handphone Sony Ericsson K770i ku dan kusimak seksama tiap kata pengakuannya akan masa lalunya. Jari jemariku menjadi saksi, sakitnya lambungku menjadi bukti, bahwa dia telah menyentuh lukaku dan membuatku ngilu tak berdaya. Lagi-lagi aku selalu bertopeng. Tertawa-tawa seakan it's ok. Padahal jelas sudah bahwa dia adalah orang yang harus aku hindari. Dia telah menggunakan parangnya berkali-kali. Dia telah menggunakan parangnya bukan untuk membela diri. Dia.......adalah orang yang selama ini yang seharusnya aku jauhi. Aku terdiam. Berada antara ketakutan akan kisah perih yang pernah menggerogoti kehidupan dan harapanku. Aku berada di antara harapan dan ketakutan yang keduanya menekan keyakinan yang tertancap di dasar hati.

Mengapa...
tak bisa aku bendung airmata ini. aku pun juga tidak bisa mengatur suhu panas tubuhku. Aku pun merasa kesusahan untuk bernafas. Jantung berdetak cepat. Aliran darah mengalir hebat. Semua persendianku terasa lapuk. Aku tidak bisa mengendalikan emosi hatiku. Aku merasa berada di mesin waktu yang mengembalikanku ke masa silam.

Aku merasa teramat rapuh...hatiku terasa gelap. Semua tidak bisa aku kendalikan dengan baik. Perjuangan mencapai harapan, rapuh dan lapuk..
Semuanya telah merapuh...

Tidak ada komentar: